>Panduan Mengundurkan Diri

Februari 21, 2011 Erna Wahyuningsih

>

Pada titik tertentu dalam karir di sebuah perusahaan, kita bisa memutuskan untuk meneruskan karir di perusahaan lain atau mungkin meneruskan dengan mendirikan usaha sendiri, atau bahkan hanya sekedar yang penting berhenti walau menganggur.
Tidak sedikit yang bingung atau gugup dalam menghadapi situasi seperti ini, termasuk menyampaikan pengunduran diri. Kecuali tentu saja, yang memang sudah tidak tahan dengan keadaan dan memang ada kasus dengan atasan.

Berikut ini adalah beberapa tips berdasarkan pengalaman saya sendiri dan juga belajar dari rekan-rekan saya. Semoga membantu yang ingin atau akan resign.
Yakinkan bahwa Resign-nya kita adalah karena kita MENGEJAR sesuatu yang kita INGINKAN, dan bukan hanya karena kita ingin kabur dari keadaan sekarang. Tidak sedikit dari kita yang tujuan resign-nya adalah karena kita ingin kabur dari perusahaan sekarang. Yang berarti bahwa kita akan ambil apa saja yang lewat demi bisa kabur. Yang penting kabur, walau sasaran tidak jelas sama sekali! Ini seperti menganggap karir adalah persinggahan saja, karena dengan kabur ke jabatan, posisi, atau perusahaan yang sebetulnya bukan PILIHAN IDEAL, kita mengambil resiko mengulang siklus yang sama di perusahaan baru ini. Yakinkan bahwa kita BENAR-BENAR menginginkan pekerjaan, posisi, atau perusahaan yang akan kita tuju tersebut. Dalam dilema terutama ada perasaan tidak enak atau ada perasaan ingin menjaga perasaan atasan atau perusahaan yang begitu baik terhadap kita, walau dengan resign sebenarnya kita menjemput impian kita, REMEMBER TO PUT
YOURSELF FIRST!
Dalam hal memutuskan karir masa depan, terutama karir impian dan sasaran hidup kita, tidak ada yang salah dengan menempatkan diri kita dengan impian kita di atas kepentingan orang lain di perusahaan.
Apabila kita telah mantap dengan PILIHAN kita, hargai tuntunan kata hati yang telah menuntun kita ke PILIHAN tersebut.
Lihatlah sisi positifnya, bahwa dengan resign kita justru memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengisi posisi kita, apalagi kalau ternyata kita telah menyiapkan pengganti kita. Remember, seberapa besarpun cinta perusahaan pada kita atau sebaliknya, this is business!

Kalau merasa mempunyai nilai jual yang tinggi atau percaya pada kemampuan diri, resign sebelum ada job baru sah-sah saja! Memang tidak banyak orang yang berani resign sebelum ada pekerjaan baru, tapi bukan berarti tidak mungkin. Kadang kesempatan berikut terbuka saat kita sudah meninggalkan ikatan lama. Untuk mengambil langkah berani ini, memang yang penting adalah kita tahu apa yang kita inginkan, tahu kompetensi kita, dan tahu bagaimana menuju yang kita inginkan. Saya melakukan hal ini dua kali, dan keduanya menuntun ke pekerjaan yang menggembirakan.
Kalau mau menyeberang,
jangan bakar jembatannya!

Sejelek apapun hubungan kita dengan atasan, rekan kerja, atau bawahan di perusahaan sekarang, dan seberapapun buruknya anggapan sikap atau perilaku mereka terhadap kita, ingat bahwa mereka hanyalah orang-orang yang bekerja di perusahaan dengan berbagai sikap dan perilaku, seperti halnya kita.
Sikap paling aman menurut saya adalah mencatat di pikiran bahwa semuanya adalah hubungan professional, nothing personal. Dan tidak ada yang merugikan dengan tetap menjaga hubungan baik dengan siapapun. Bagaimana kita bisa mencegah diri agar tidak membakar jembatannya?

a. Hal pertama adalah perilaku kita dan interaksi kita dengan semua orang di perusahaan di hari-hari terakhir kita. Ada jebakan sikap untuk bisa seenaknya karena toh penilaian orang lain, apalagi orang yang tidak kita sukai, sudah tidak berpengaruh lagi. Di sinilah terminologi ‘masuk baik-baik, keluar baik-baik’ berperan. Ingat kembali konsep ‘recently error’ dalam penilaian kinerja, bahwa saat-saat terakhir bisa lebih diingat dan membawa pengaruh di pikiran orang-orang yang menilai kita. Saya sudah menyaksikan banyak sekali orang yang menghancurkan prestasi atau kinerja selama bertahun-tahun, hanya karena di hari-hari terakhir mereka berperilaku yang tidak sehat. Beberapa orang yang merasa di akhir karir mereka di perusahaan tidak dihargai misalnya, berbuat onar untuk ‘unjuk rasa’. Yang mereka lupa, keonaran ini justru akan lebih diingat dibanding prestasi mereka sebelumnya.

b. Hal kedua, tentunya apabila kita diundang untuk melakukan exit interview. Di sini, lazimnya dilakukan oleh pihak Departemen Sumber Daya Manusia (SDM), dan oleh karena itu kadang kita terpancing untuk memuntahkan semua kekesalan dan kebencian kita, apabila itu memang menjadi alasan kita mengundurkan diri. Ingat, bahwa tidak semua pelaku interview terakhir ini bisa bersikap bijak dalam merespon atau memfilter keluhan kita. Jadi, tetap bersikap bijak, dan apabila harus menjawab tanpa bisa menghindari persepsi mengadu, gunakan bingkai kalimat ‘saya’, bukannya ‘perusahaan’. Jadi daripada mengatakan perusahaan tidak pernah memberikan kesempatan pada saya, katakan saya tidak pernah merasa diberikan kesempatan oleh perusahaan.

c. Hal berikutnya yang akan mencobai adalah pada saat interview dengan calon perusahaan baru, dan kita ditanyakan alasan kita meninggalkan perusahaan sekarang. Ada godaan besar untuk mengutarakan perasaan kita mengenai atasan, rekan kerja, kultur, atau apapun yang tidak menyenangkan kita. Dan seberapapun dalih kita yang mengatakan bahwa kita tidak bermaksud menjelek-jelekan, kita telah menjelek-jelekan!
Kalaupun sampai Anda harus menjawab, seperti di atas, gunakan bingkai ‘saya’ dan bukan ‘mereka’. Jadi daripada berkata mereka tidak memperhatikan saya, katakan saya merasa bahwa mereka tidak memperhatikan saya.
Saran saya, keep it professional, my friend! Perusahaan kita saat ini dan orang-orang di dalamnya, baik atau buruk, benar atau salah, bisa jadi adalah customer kita di masa depan, atau mungkin partner atau rekan kerja lagi di masa depan, bahkan mungkin bos kita! Dan, you never know, kita mungkin saja kembali bekerja di situ suatu saat.

Jangan bakar jembatan Anda!

Layangkan surat resign dengan mantap!
Kalau sudah mantap dengan keputusan kita untuk resign, tuliskan surat resign dengan professional.
Tidak ada format terbaik untuk surat resign, karena sangat tergantung pada kita sendiri dan apakah perusahaan siap dengan pengunduran diri kita. Kalau kita dianggap asset terbaik mereka dan mereka tidak
membaca adanya sinyal kita ingin keluar, sebagus apapun suratnya tetap bisa diterima dengan berat dan patah hati. Demikian pula apabila kita memang diinginkan untuk keluar, seindah apapun surat kita tidak jadi soal lagi. Saran saya, buatlah yang bernada persuasive dan tidak sekedar informative. Apalagi apabila kita tahu bahwa pengunduran diri kita tersebut tidak diinginkan dan tidak disangka – sangka oleh atasan atau perusahaan.

Surat resign yang persuasive akan memuat tiga bagian:
a. Pembuka surat, dimana kita mengutarakan situasi yang kita hadapi saat ini di perusahaan, dan/atau impian kita untuk maju, dan/atau berbagai perasaan kita, pendapat kita mengenai diri kita dan perusahaan, dan lain-lain. Intinya menceritakan beberapa situasi yang menuntun kita untuk mempertimbangkan resign.

b. Badan surat, dimana kita menyampaikan berbagai alternative yang sudah kita pertimbangkan sebagai keputusan kita dan outcome atau hasilnya menurut pendapat kita, misalnya kalau kita menetap apa yang akan terjadi menurut kita, atau apabila kita pindah bagaimana keadaan perusahaan dan kita, dan lain-lain.

c. Akhir surat, dimana kita menyampaikan bahwa dari situasi yang ada dan dari berbagai pilihan yang kita pertimbangkan, kita sampai pada keputusan untuk resign.

Sisanya adalah ungkapan penghargaan dan terima kasih untuk kesempatan, perkembangan diri kita, bimbingan selama kerja, dan sejenisnya.
Pastikan Anda paham hak dan kewajiban!
Hak dan kewajiban tetap berlaku sampai akhir karir di manapun.
Pastikanlah Anda paham dengan semua hak dan kewajiban Anda. Informasi lengkap tentang ini bisa Anda dapatkan dari Departemen Sumber Daya Manusia (SDM), atau dari sahabat-sahabat Anda yang lebih memahami. Danpada saat Anda melakukan serah terima jabatan dengan rekan kerja atau penerus Anda, pastikan ada bukti tertulis atau berita acara mengenai serah-terima tersebut, lengkap dengan saksinya. Dan tentu saja, pada penyerahan akhir kewajiban Anda, pastikan juga ada kalimat ‘semua kewajiban telah selesai’ dari pihak yang berwenang di perusahaan. Dan ini juga bukan soal curiga ada maksud tidak baik dari perusahaan. Siapapun bisa lupa, dan apabila itu terjadi, Anda sudah siap!

Do the best until the end!

Bilamana mungkin, di saat-saat akhir, naikkan gigi ke tingkatyang tidak pernah kita capai sebelumnya! Pada saat kita sudah memutuskan keluar atau sudah mengajukan surat resign, perasaan lega dan damai, bercampur nikmat dan bahagia yang tidak bisa dijelaskan, bisa menjadi pemicu adrenalin untuk menghasilkan hal-hal yang luar biasa di garis finish. Kembali lagi, saat-saat terakhir menawarkan kesempatan untuk meninggalkan legacy (warisan) atau kenang-kenangan yang indah.

So do the best!

Berikan apresiasi pada yang benar-benar berarti bagi Anda dan karir Anda!
Saat Anda sudah melayangkan surat resign, tersedia ruang yang sangat luas untuk menyampaikan penghargaan Anda pada siapa saja di perusahaan yang Anda anggap sebagai orang-orang yang berjasa buat karir dan perkembangan diri Anda. Tuliskan email atau surat/kartu ucapan terima kasih kepada mereka, dengan menyebutkan secara spesifik bagaimana mereka telah memberikan pengaruh pada
karir dan perkembangan diri Anda!
Akui saat-saat yang kurang bisa dibanggakan, dan banggalah pada pencapaian!
Di beberapa perusahaan, kita disediakan kesempatan untuk say goodbye atau memberikan sedikit pidato perpisahan. Di beberapa perusahaan, malah kesempatan ini ditampilkan di depan seluruh karyawan perusahaan. Ambil kesempatan ini dengan professional.
Ingat untuk mengakui saat-saat dimana Anda tidak merasa bangga akan apa yang Anda lakukan. Dan ingat juga untuk mengakui pencapaian diri Anda di perusahaan, termasuk berbagai warisan yang Anda banggakan, dan sekaligus berterima kasih pada mereka-mereka yang membantu Anda mencapainya. Dan ingat, bahwa ini bukan berarti Anda menyombongkan diri, tapi sekedar pengungkapan rasa bangga Anda pada apa yang telah Anda capai, terutama kebahagiaan telah memberikan kontribusi berarti untuk perusahaan Anda! Apabila
ada nada sumbang mengenai prestasi Anda, perilaku Anda, atau ada yang sepertinya melonjak kegirangan dengan kepergian Anda, so be it! Apapun yang kita lakukan, akan ada yang senang, akan ada yang tidak senang. Fokus saja pada kenyataan bahwa Anda cukup sportif untuk mengakui kekurangan Anda dan Anda bangga dengan pencapaian Anda!
Off you go!
Setelah semuanya selesai, kecapilah dunia baru Anda dengan antusias! Kita yang mengkreasikan realita kita sendiri dan oleh sebab itu, kita juga pantas menjemput setiap pencapaian kita, apapun itu. Posisi baru, jabatan baru, pangkat baru, perusahaan baru, semuanya adalah PILIHAN kita. So, ENJOY, my friend! ENJOY!

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Februari 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  
 
%d blogger menyukai ini: